Home / Musi Rawas / Potret

Minggu, 7 Juni 2026 - 22:22 WIB

Dari Hulu Migas, Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Bangkitkan Perekonomian Perempuan Desa Giriyoso

Salah seorang anggota KWT Mekar Jaya melakukan aktivitas di dapur produksi

Salah seorang anggota KWT Mekar Jaya melakukan aktivitas di dapur produksi

Oleh: Jhuan Silitonga

Aroma jahe dan lengkuas memenuhi sebuah rumah sederhana di Desa Giriyoso, Kecamatan Jayaloka, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Asap tipis mengepul dari sebuah teko yang diaduk perlahan oleh Widayanti, perempuan 36 tahun yang pagi itu tampak sibuk di dapur produksi Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Jaya.

Di sudut ruangan, beberapa ibu-ibu lain terlihat menyiapkan rempah-rempah. Ada yang memarut jahe, menimbang gula, hingga mengemas serbuk minuman ke dalam plastik bening berukuran 100 gram. Suara blender dan gelak tawa mereka sesekali memecah suasana pagi di desa itu.

“Itu Japleng,” ujar Widayanti sambil tersenyum.

Perempuan berparas teduh itu lalu menuangkan serbuk rempah ke dalam gelas berisi air hangat. Aroma khas jahe, pinang, dan lengkuas langsung menguar memenuhi ruangan.

Japleng merupakan minuman tradisional olahan rempah yang diproduksi ibu-ibu KWT Mekar Jaya. Namun di balik rasanya yang hangat, Japleng menyimpan cerita lebih besar tentang bagaimana industri hulu migas menghadirkan efek berganda hingga ke dapur-dapur desa.

“Japleng ini bukan sekadar minuman penghangat tubuh,” kata Widayanti. “Ini simbol semangat kami, ibu-ibu desa, untuk bisa mandiri membantu ekonomi keluarga.”

Widayanti menjelaskan, proses pembuatan Japleng masih dilakukan secara tradisional. Rempah-rempah seperti jahe, pinang, dan lengkuas diparut lalu diendapkan sekitar satu jam. Setelah itu dimasak bersama gula hingga mengkristal menjadi serbuk minuman.

“Setelah jadi, baru diblender, disaring, lalu dikemas,” ujarnya.

Dalam sehari, kelompok mereka mampu memproduksi tiga hingga lima kilogram Japleng. Produk itu dijual seharga Rp15 ribu per kemasan dan dipasarkan di warung-warung desa hingga kantin perusahaan.

Bahan bakunya sebagian besar berasal dari pekarangan rumah warga. Bibit rempah seperti jahe dan lengkuas diperoleh dari bantuan program pemberdayaan masyarakat PT Medco E&P yang beroperasi di wilayah Kecamatan Jayaloka.

“Kalau dicampur susu atau madu rasanya lebih nikmat,” kata Widayanti sambil tertawa kecil menawarkan segelas Japleng hangat.

Hulu Migas yang Mengalir Hingga ke Desa

Kabupaten Musi Rawas memiliki 14 kecamatan, 13 Kelurahan dan 186 desa, di daerah berslogan Lan Serasan Sekentenan ini, PT Medco E&P mengelola produksi minyak dan gas bumi di sejumlah wilayah operasi. Aktivitas perusahaan tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan BTS Ulu, Muara Lakitan, Tuah Negeri, hingga Jayaloka.

Untuk Kecamatan BTS Ulu, perusahaan memiliki wilayah kerja di sekitar Stasiun Jene di Desa Pelawe yang meliputi Lubuk Pauh dan Sembatu. Ada pula Stasiun Gunung Kembang di kawasan Sungai Bunut yang mencakup Sungai Naik, Pangkalan Tarum, Gunung Kembang Lama dan Gunung Kembang Baru.

Sementara di Kecamatan Muara Lakitan terdapat Stasiun Pian Raya yang meliputi wilayah Semangus dan SP9 HTI. Di Kecamatan Tuah Negeri terdapat Stasiun Temelat di kawasan Lubuk Besar. Sedangkan di wilayah Mulyo Harjo terdapat stasiun Medco yang menjangkau kawasan SP3, SP5, SP6, SP8, SP9 hingga Tambangan.

Khusus di Kecamatan Jayaloka, program pemberdayaan masyarakat Medco E&P menyasar sejumlah desa seperti Giriyoso, Ngestiboga II, Kertosono, Margoyoso, Kelurahan Marga Tunggal, dan Sidodadi.

Bagi perusahaan, keberadaan industri hulu migas tidak hanya bicara soal produksi energi, tetapi juga bagaimana energi itu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.

Perempuan Desa yang Belajar Mandiri

Ibu-ibu KWT Mekar Jaya saat lagi melakukan aktivitas produksi di dapur

Tak jauh dari tempat Widayanti berdiri, seorang Perempuan berhijab tampak sibuk membantu proses pengemasan produk. Perempuan itu adalah Siti Kalima, Ia merupakan salah satu pengelola KWT Mekar Jaya.

Menurut Siti, usaha olahan rempah yang mereka jalankan saat ini bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja. Ada proses panjang yang dimulai sejak 2018 ketika kelompok mereka mulai mendapatkan pendampingan dari Medco E&P melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).

Baca Juga :  PHE Jambi Merang Perkenalkan Madu Lebah Sabak dan Stick Buah Naga di Ajang Hari UMKM Nasional 2024

“Dulu kami ingin punya usaha, tapi terkendala modal, keterampilan, dan pengetahuan,” ujar ibu tiga anak itu.

Sejak menjadi kelompok binaan perusahaan, para perempuan di Desa Giriyoso mulai mendapatkan pelatihan pengolahan produk, bantuan alat produksi, hingga pendampingan pemasaran.

Perlahan, usaha kecil yang bermula dari dapur rumah itu berkembang menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga mereka.

“Alhamdulillah, kami dibantu peralatan dan pelatihan. Bahkan pemasaran produk juga ikut dibantu,” katanya.

Tak hanya Japleng, KWT Mekar Jaya kini memproduksi berbagai olahan lain seperti keripik tempe, stik jahe, serbuk kunyit, serbuk temulawak, minyak VCO, peyek, rengginang, hingga kerupuk jengkol.

Bahkan saat ini, kata Siti Kalima, ada produk baru yang sedang mereka kembangkan yakni, susu kedelai, yang setiap produksi dapat memperoleh keuntungan di kisaran Rp.60 ribu hingga Rp.100 ribu.

Selain itu juga ada varian olahan lainnya seperti, kopi bubuk, serbuk jahe, serbuk temu lawak, serbuk kunyit, stik bawang dan pangsit.

“Untuk keripik tempe rutin di produksi, apalagi baru-baru ini kita mendapat bantuan mesin giling pecah kedelai dari PT Medco Energi, tentunya ini akan membantu meningkatkan produksi keripik tempe.

“Khusus dari keripik tempe kami memperoleh omset penjualan Rp.2 juta hingga Rp.3 juta perbulan. Sementara omset penjualan Susu Kedelai di kisaran Rp. 1,5 juta lebih perbulannya,” ujar Siti.

Sementara, omzet penjualan kelompok kini berkisar diatas Rp.10 juta perbulan. Bahkan bisa lebih jika permintaan sedang tinggi, terutama pada masa pandemi Covid-19 lalu, omzet mereka bahkan mampu mencapai belasan juta per minggu.

“Waktu pandemi, permintaan Japleng meningkat drastis sampai ke luar daerah dan Jakarta. Kami sampai kewalahan memenuhi pesanan,” kenang Siti.

Pandemi yang sempat melemahkan banyak sektor usaha justru menjadi momentum bagi produk herbal tradisional mereka. Masyarakat mulai mencari minuman kesehatan berbahan alami, dan Japleng menjadi salah satu produk yang diminati.

Bagi Siti, perubahan paling besar bukan hanya soal tambahan penghasilan tapi usaha ini juga menumbuhkan rasa percaya diri perempuan-perempuan desa yang sebelumnya hanya bergantung pada hasil kebun dan penghasilan suami.

“Sekarang kami bisa ikut membantu kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak,” ujarnya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan perjuangan panjang perempuan desa untuk bangkit secara ekonomi.

Efek Berganda Hulu Migas melalui Program PPM

Support Officer Relation Community Enhancement Medco E&P, Yudhia Karmina, mengatakan program pemberdayaan masyarakat di wilayah Jayaloka lahir dari kondisi masyarakat yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil kebun.

Melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), perusahaan berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu memperbaiki kualitas hidup secara mandiri.

“Tujuan kami bagaimana masyarakat bisa mandiri dan mampu meningkatkan perekonomian keluarga,” ujar Yudhia.

Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi faktor penting bagi keberlangsungan operasi perusahaan. Karena itu, hubungan harmonis antara perusahaan dan masyarakat harus dibangun melalui program-program yang berdampak langsung.

“Masyarakat dan perusahaan harus bisa bergerak bersama, tumbuh bersama, dan sama-sama memberikan dampak,” katanya.

Untuk di Musi Rawas sendiri, jelas Yudhia, sedikitnya terdapat tiga desa penerima manfaat program UMKM binaan perusahaan. Di Desa Giriyoso, Kecamatan Jayaloka, perusahaan memberikan bantuan pelatihan desain kemasan produk serta bantuan peralatan penunjang UMKM dengan jumlah penerima manfaat sekitar 50 orang.

Sementara di Desa Gunung Kembang Lama, Kecamatan BTS Ulu, perusahaan memberikan bantuan peralatan pendukung UMKM kepada sekitar 20 penerima manfaat. Sedangkan di Desa Pelawe, Kecamatan BTS Ulu, perusahaan memberikan pelatihan tata boga dan pembuatan makanan ringan beserta bantuan peralatan pendukung usaha kepada sekitar 25 penerima manfaat.

Baca Juga :  Akibat Vandalisme, Medco E&P Lakukan Aktivitas Pembersihan Standar K3LL

Dampak program itu perlahan mulai terasa di masyarakat.

Beberapa Produk olahan KWT Mekar Jaya

Selain membuka peluang usaha baru, aktivitas UMKM juga menciptakan lapangan kerja kecil di desa. Warga mulai menanam rempah-rempah sebagai bahan baku produksi. Warung-warung ikut memasarkan produk olahan warga. Relasi pemasaran semakin terbuka, bahkan hingga luar daerah.

Masyarakat juga mulai mendapatkan pengalaman baru dalam mengelola usaha, memahami pemasaran, hingga meningkatkan kreativitas dalam membuat produk.

“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi perusahaan ketika masyarakat binaan bisa berkembang dan mandiri,” ujar Yudhia.

Tantangan di Balik Operasi Hulu Migas

Yudhia menguangkapkan, di balik keberhasilan program pemberdayaan dan aktivitas operasi hulu migas, perusahaan juga menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Pada awal masuknya perusahaan ke wilayah masyarakat, tidak sedikit warga yang khawatir terhadap dampak lingkungan akibat aktivitas pengeboran minyak dan gas.

“Ada kekhawatiran soal pencemaran lingkungan dan dampak terhadap desa mereka,” katanya.

Selain itu, persoalan pembebasan lahan juga kerap menjadi kendala karena adanya permintaan ganti rugi yang melebihi nilai NJOP. Belum lagi tingginya harapan masyarakat terkait penyerapan tenaga kerja lokal dan bantuan pembangunan infrastruktur desa.

Meski demikian, perusahaan berupaya membangun komunikasi dan pendekatan sosial dengan masyarakat melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.

“Kami berharap masyarakat bisa terus bersinergi dan mendukung kegiatan operasi perusahaan agar semua berjalan aman, baik, dan lancar,” ujar Yudhia.

Harapan dari Desa

Produk Japleng

Sementara harapan dan dukungan juga hadir dari pemerintah setempat, Camat Jayaloka, Ali Aman, mengapresiasi program pemberdayaan yang dijalankan Medco E&P di wilayahnya. Menurutnya, program itu telah membantu mendorong pertumbuhan usaha perempuan desa.

Namun ia berharap pengembangan usaha tidak berhenti hanya pada produksi.

“Kualitas kemasan dan pemasaran harus terus ditingkatkan supaya produk mereka bisa menembus pasar yang lebih luas, yang tentunya akan berdampak pada meningkatnya omset penjualan kelompok tersebut,” katanya.

Pemerintah kecamatan selama ini turut membantu promosi produk-produk KWT melalui bazar dan pameran daerah. Ke depan, Ali Aman berharap adanya rumah oleh-oleh atau galeri produk UMKM agar hasil olahan masyarakat memiliki pusat pemasaran tetap.

Harapan serupa juga disampaikan Kepala Desa Giriyoso, Ngatimin.

Menurutnya, keberadaan program pemberdayaan Medco E&P telah membawa perubahan nyata bagi masyarakat, terutama perempuan desa.

“Selain membantu ekonomi keluarga, ibu-ibu di sini sekarang lebih kreatif dan percaya diri,” ujarnya.

Ngatimin berharap pendampingan dan kerja sama antara perusahaan dan masyarakat terus berjalan dan berkelanjutan sehingga produk-produk olahan Desa Giriyoso mampu berkembang lebih besar lagi.

Si Japleng yang Menghangatkan Harapan

Menjelang sore, aktivitas di dapur KWT Mekar Jaya perlahan mulai berkurang. Keripik tempe hangat tersaji di atas nampan bambu. Tawa para ibu-ibu masih terdengar di sela-sela aktivitas mereka membereskan peralatan produksi.

Dari sudut ruangan, Widayanti tampak merapikan puluhan kemasan Japleng yang baru selesai diproduksi hari itu.

“Alhamdulillah, hari ini sudah 35 bungkus,” katanya sambil tersenyum lepas.

Baginya, Japleng bukan hanya minuman herbal.

Dari dapur kecil di Desa Giriyoso, Japleng telah menjadi simbol bagaimana energi dari industri hulu migas tidak berhenti di sumur-sumur produksi. Energi itu mengalir lebih jauh, menghidupkan usaha kecil, menggerakkan ekonomi desa, dan menumbuhkan harapan baru bagi perempuan-perempuan desa.

Di tangan mereka, energi itu menjelma menjadi sesuatu yang hangat. Sehangat segelas Japleng di sore hari.

Share :

Baca Juga

Musi Rawas

Sungai Musi Meluap, Puluhan Rumah di Dua Kecamatan di Musi Rawas Terendam

Musi Rawas

Raperda APBD 2019 Musi Rawas Disahkan

Musi Rawas

PT Evans Lestari Jawab Tuntutan Warga: Tenaga Lokal, CSR, Hingga Plasma Melebihi Batas

Musi Rawas

DPP-KB Musi Rawas Gelar Audit Kasus Stunting Tahap Pertama

Musi Rawas

Tim Landak Polres Musi Rawas Gelar Latihan Menembak

Musi Rawas

BUMDesma Kolones Jaya Mandiri Tugumulyo LKD Terus Berinovasi

Kriminal

Seorang Buruh Tani dan IRT diamankan Satuan Narkoba Polres Musi Rawas

Musi Rawas

Bupati Musi Rawas Buka Pekan Raya Musi Rawas Mantab 2025