MUSI RAWAS – Di sebuah rumah sederhana di Desa Giriyoso, Kecamatan Jayaloka, Kabupaten Musi Rawas terlihat seorang wanita berparas ayu, mengaduk sebuah teko berisi serbuk olahan yang di seduh air hangat. Kepulan asap tipis hingga aroma jahe dan lengkuas merebak ke seluruh ruangan, mengusik indera penciuman hingga menggoda rasa ingin tahu, minuman apakah itu.
Itu Japleng kata Widayanti wanita berusia 35 tahun. Sembari mengaduk minuman ia menjelaskan, Japleng adalah serbuk minuman tradisional yang di olah dari tanaman rempah rempah seperti, Jahe, Pinang dan Lengkuas. Ia bersama ibu-ibu di desa mencoba berinovasi mengolah tanaman rempah-rempah menjadi minuman yang menyehatkan.
Minuman ini kata Widayanti, bukan hanya sekedar minuman penghangat tubuh tapi simbol semangat 25 orang ibu ibu untuk kemandirian ekonomi perempuan Desa Giriyoso yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Jaya. Proses pembuatannya juga gak susah, sambung Yanti, dengan bahan rempah rempah seperti Jahe, Pinang dan Lengkuas serta gula.
“Membuat Japleng ini diawali dengan memarut bahan dasarnya lalu mengendapkan hasil parutan selama kurang lebih satu jam. Kemudian di masak dan di campur gula selama kurang lebih satu jam hingga mengkristal dan jadilah serbuk Japleng. Lalu di blender dan di saring dan selanjutnya di kemas,” terang Widayanti, Senin siang (3/11/2025).

Ket Foto: Ibu Widayanti saat memproduksi profuk olahan Japleng (kiri) dan Serbuk Japleng (kanan)
Untuk memproduksi produk Japleng ini, sambung dia sehari berkisar antara tiga hingga lima kilogram dengan kemasan 100 gram per sachet yang dihargai Rp.15 ribu rupiah. Untuk bahan baku nya berasal dari warga desa dan juga ditanam sendiri oleh anggota KWT. Adapun bibit tanaman rempah-rempah ini juga diperoleh dari bantuan Perusahaan Medco E&P.
“Japleng ini berfungsi untuk membantu ketahanan tubuh, menambah stamina pria dan wanita serta menghangatkan tubuh saat cuaca dingin. Apalagi kalau minuman Japleng ini dicampur dengan susu atau madu sangat nikmat lo pak,” ungkap Widayanti sembari menawarkan segelas minuman Japleng untuk di minum.
Dari dalam rumah sederhana itu, hadir sosok wanita berhijab menuju dapur produksi. Langkahnya begitu pasti ikut bergabung bersama ibu-ibu lainnya. Ia adalah Siti Kalima salah satu pengelolah KWT Mekar Jaya. Dari obrolan sebelumnya Siti Kalima ikut menimpali penjelasan yang di sampaikan Widayanti, kata wanita anak tiga ini, ide membuat Japleng berawal dari program pemberdayaan dan program tanggung jawab sosial (CSR) Medco E & P. Dimana perusahan industri hulu migas ini beroperasi di Kecamatan Jayaloka Kabupaten Musi Rawas.
Sejak 2018 lalu, KWT Mekar Jaya berdiri dan menjadi binaan perusahaan Medco E & P. Mengolah Japleng hingga menjadi produk minuman sehat tidak lah terlalu rumit, namun menjadikan minuman ini menjadi produk unggulan hingga bernilai jual di butuhkan pelatihan, pemahaman dan peralatan yang cukup.
“Alhamdulilah, sejak 2018 KWT Mekar Jaya menjadi binaan Medco, kita mendapatkan bantuan peralatan dan pelatihan, bahkan produk yang telah jadi, juga dibantu untuk pemasarannya oleh perusahaan,” kata Siti Kalima.
Selain kantin kantin di perusahaan Medco, produk Japleng yang dikemas menarik dalam palstik, juga di jual di warung dan tempat tongkrongan di desa tersebut. Bahkan, kata Siti, saat masa pandemi Covid 19 melanda Indonesia, produk Japleng ini sangat laku sekali, distribusinya hingga luar daerah bahkan sampai ke Jakarta.
Pemberdayaan Berdampak pada Perekonomian Perempuan Desa
Siti Kalima mengatakan, produk yang di kelola KWT Mekar Jaya memiliki berbagai jenis produk olahan, selain Japleng juga ada keripik tempe, stik jahe, serbuk Jahe, Serbuk Kunyit, Serbuk Temu Lawak, Kerupuk Jengkol, Kerupuk Nasi Tempe (Naste), Minyak VCO, Rengginang, Peyek dan jika musim tanaman Kacang juga memproduksi Kacang goreng sangan.

Ket Foto: Ibu Siti Kalima dan beberapa produk olahan yang di produksi KWT Mekar Jaya terpajang di ruangan KWT Mekar Jaya
Sejak KWT Mekar Jaya berdiri, Ia mengaku memberikan dampak perekonomian bagi keluarga dan kelompok usaha nya. Juga mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota, antar kelompok dan Pemerintah Desa Giriyoso.
Selain dampak ekonomi keluarga, usaha KWT Mekar Jaya ini juga menumbuhkan rasa percaya diri bagi mereka para perempuan desa. Mereka kini tak lagi bergantung sepenuhnya pada penghasilan suami, tapi mampu berkontribusi nyata bagi keluarga.
Haaaaaaaahhh….. Helaan nafas panjang perempuan paru baya 43 tahun anak tiga ini begitu kuat, mengisyaratkan kuatnya semangat dalam diri nya untuk mengembangkan produk olahan tersebut hingga mampu mendapatkan marketnya.
Dari gerak bibir nya terurai senyuman optimis dan dari sudut mata nya terpancar tatapan penuh keyakinan, bersama perempuan desa dan dukungan perusahaan, ia meyakini dapat menggerakkan perekonomian desa melalui produk olahan ini.
Energi Mengalir ke Desa Berikan Efek Berganda
Support Officier Relation Community Enhancement Medco E&P, Yudhia Karmina menjelaskan, ada lima penerima manfaat dalam program yang di luncurkan perusahaan di antaranya, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Jaya, KWT Mekar Sari, KWT Sumber Sari, KWT Subur Makmur dan KWT Desa Giriyoso. Sebelum ada program dari Medco ini, kata Yudhia, masyarakat hanya mengandalkan penghasilan dari hasil kebun. Karena tingkat ekonomi masih sangat sulit, Kelompok Wanita Tani di Desa Giriyoso berinisiatif untuk membuka usaha namun terkendala dengan modal, pengetahuan dan keterampilan.
“Dari latar belakang tersebut para ibu-ibu Desa Giriyoso ini termotivasi untuk mengikuti program dari Medco untuk meningkatkan perekonomian dan usaha kecil menengah guna menambah wawasan serta ilmu pengetahuan tentang berbagai hal seperti pengolahan serbuk minuman segar (Japleng) dan produk olahan lainnya,” jelas Yudhia.
Pada tahun 2018, melalui bidang ekonomi dengan program Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB) untuk sayuran organik, Medco memberikan pendampingan di Desa Giriyoso melalui kelompok Aligator (Lokal Champion). Pendampingan yang diberikan seperti pelatihan pengolahan tanah, pembuatan kompos, cara penanaman dan perawatan yang benar serta pelatihan membuat serbuk untuk minuman segar dan makanan.
“Dengan adanya bimbingan dan support dari Medco, di setiap rumah-rumah dilaksanakan pembuatan KRPL. Dari hasil yang diperoleh bisa mengurangi pengeluaran anggaran rumah tangga karena yang ditanam berupa sayur- sayuran, bumbu dapur/ rempah dan juga TOGA yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain pendampingan, lanjut Yudhia, Medco juga memberikan bantuan sarana dan prasarana serta dilakukan berbagai macam pelatihan, seperti cara pengemasan produk dan cara pemasarannya. Kemudian belajar cara pembuatan pupuk organik kering/ kompos dengan memanfaatkan sampah dapur basah dan daun- daunan.
“Bantuan yang diberikan berupa bibit sayuran, waring dan pupuk kompos,” ucap wanita perparas anggun ini.
Pada tahun 2019, perusahaan memberikan pelatihan pengenalan manfaat tanaman tanaman herbal di sekitar rumah warga yang bisa di manfaatkan untuk obat- obatan herbal serperti, serbuk Japleng, serbuk kunyit asam, serbuk daun kelor dan minyak VCO. Di KWT Mekar Jaya juga di berikan bantuan sarana dan prasarana untuk rumah produksi seperti Wastafel, peralatan blender, mesin penggilingan pembuatan serbuk serta bantuan rumah untuk pembibitan dan rumah maggot.
“Pada Tahun 2020-2021 pendampingan sempat terhenti karena adanya covid -19,” ungkap Yudhia namun pada tahun 2021 KWT Mekar Jaya mendapatkan bibit Jahe untuk dibudidayakan.

Ket Foto: Perwakilan dari Medco E&P yang rutin mengunjungi dapur produksi KWT Mekar Jaya
Pada Tahun 2022 Desa Giriyoso mendapatkan bantuan kolam terpal dan bibit ikan lele, untuk pengembangan usaha Abon Lele untuk pemberian makanan tambahan ( PMT ) balita stunting. Pada tahun 2024 bantuan sarana dan prasarana diberikan Medco di antaranya bibit sayuran dan waring untuk pembuatan demplot sayuran di Dusun 3 Desa Giriyoso dan Mesin Giling Ganyong untuk Kelompok Dasawisma Manggis Dusun 2 Sidomulyo.
Pada tahun 2025 ini, terang Yudhia perusahaan memberikan bantuan peralatan berupa, mesin pemecah kedelai untuk kelompok Dasawisma Matahari Dusun 1 Sukorejo, Spinner untuk kelompok Dasawisma Kenanga Dusun IV Gunung Sari dan mesin pemotong keripik untuk KWT Mekar Sari Dusun II Sidomulyo serta pemberian pelatihan pembuatan desain kemasan produk makanan KWT dan pemasaran online serta pemberian pelatihan untuk desain packaging produk untuk KWT Desa Giriyoso.
“Saat ini, izin PIRT baru beberapa produk yang sudah ada izinnya seperti stick Lortule, Abon Lele dan minuman Japleng,” urainya.
Yudhia Karmina mengatakan, pendampingan yang diberikan kepada KWT di Desa Giriyoso merupakan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) perusahaan di wilayah operasinya.
Sebagai bagian dari industri hulu migas nasional, perusahaan juga memiliki tanggung jawab sosial dengan prinsip keberlanjutan. Sumber Daya Alam melalui energi yang dihasilkan harus mengalir dan memberikan dampak pada kemajuan masyarakat di wilayah operasi.
Dukungan dan Harapan Pemerintah Desa dan Kecamatan
Camat Jayaloka, Ali Aman mengapresiasi hadirnya Medco E&P di wilayah Jayaloka, terutama program pemberdayaan untuk UMKM melalui Kelompok Kerja Wanita di Desa Giriyoso. Sejak 2018 ada lima KWT yang menjadi binaan perusahaan, mereka diberikan pelatihan, bantuan alat dan kelengkapan usaha bahkan di bantu pemasarannya.
Namun menurut Ali Aman, produksi produk KWT yang menjadi binaan Medco E&P ini harus dapat berkelanjutan dan meningkat terus sehingga nafas usaha mereka tetap ada karena hal ini lah yang memberikan pendapatan tambahan bagi ibu-ibu KWT di desa ini.
“Menurut saya, sasaran yang perlu menjadi perhatian bersama agar dapat meningkatkan perekonomian dan produksi UMKM tersebut yakni peningkatan kualitas produk mulai dari kemasan atau packing, hingga proses pemasaran karena saat ini permintaan produk tersebut hanya untuk memenuhi wilayah sekitar sini saja,” ungkap Ali Aman sembari menyarankan agar pelatihan tentang pemasaran baik offline maupun secara online dapat di berikan kepada para pengelolah KWT yang ada di Desa Giriyoso ini.
Selain itu, Ali Aman menambahkan agar di perkuat juga tentang packaging nya agar menambah daya tarik produk tersebut sehingga dapat memudahkan untuk promosi produk, karena dengan kemasan yang menarik konsumen dapat dengan mudah dan praktis membawa produk yang dibelinya.
“Setiap kegiatan yang di adakan Pemkab Musi Rawas baik itu Bazar atau pekan raya, produk dari Jayaloka ini kita hadirkan di stan kecamatan. Ini salah satu upaya kita untuk mempromosikan produk-produk unggulan yang ada di Jayaloka. Namun saya berharap Medco E&P dapat membantu tersedianya galeri produk atau rumah oleh-oleh untuk produk yang di hasilkan para ibu-ibu KWT ini,” harap Ali Aman.
Hal senada juga di sampaikan Kepala Desa Giriyoso, Ngatimin S.Ip, kehadiran dan perhatian Medco E&P kepada ibu-ibu di wilayahnya sangat dirasakan manfaatnya. Selain dapat menambah penghasilan tambahan bagi anggota KWT mereka juga mendapatkan pengalaman, pengetahuan sehingga aktivitas para ibu-ibu makin kreatif.
Bukan hanya bantuan peralatan dan pendampingan saja lanjut Ngatimin, Medco E&P juga memberikan bantuan bibit untuk bahan baku nya seperti Jahe, Lengkuas dan Pinang. dimana bibit ini di tanam ibu-ibu anggota KWT dan masyarakat Desa Giriyoso di pekarangan rumahnya masing-masing. Hal ini justru mempermudah ibu-ibu di KWT dalam menyediakan bahan baku untuk produksi.
“Atas nama pemerintah desa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada perusahaan Medco yang telah memberi pembinaan kepada KWT yang ada di Desa Giriyoso, sehingga banyak kemajuan dan manfaat yang kami dapat,” ucap Ngatimin sembari menyampaikan harapan agar perhatian dan kerja sama yang baik ini tetap terjalin terus demi kemajuan masyarakat Desa Giriyoso khususnya dalam peningkatan perekonomian.
Selain itu, tambah Ngatimin, Pemerintah Desa Giriyoso juga berharap kedepan Medco E&P dapat memberi bantuan berupa Rumah Oleh -oleh sebagai pusat belanja dan sarana jual beli produk olahan yang dihasilkan KWT binaan perusahaan, agar pelaku UMKM Desa Giriyoso bisa punya wadah untuk memasarkan semua hasil produksi secara maksimal.
“Kami juga mengharapkan diadakannya pelatihan marketing bagi pelaku usaha UMKM agar bisa memperluas jangkauan pemasaran hasil produksi Desa Giriyoso,” ucap Ngatimin.
Si Japleng Menggemaskan
Senyum manis dan canda tawa para ibu-ibu di dapur KWT Mekar Jaya begitu riuh, kepulan asap dan minyak dari tungku kayu mendesis pelan, keripik tempe dari penggorengan dihidangkan dalam nampan anyaman bambu. Satu persatu para ibu-ibu menggerakkan tangan untuk mencicipi keripik tempe yang masih hangat.
Tak terasa matahari mulai turun ke ufuk barat, hadir nya senja memberikan refleksi bagi insan manusia untuk menikamati teduh dan indahnya suasana sore hari. Dari sudut ruangan di KWT Mekar Jaya, tampak Ibu Widayanti mulai merapikan pekerjaan usai melakukan pengemasan produk Japleng.

Ket Foto: Ibu Siti Kalima bersama Ibu Ibu di KWT Mekar Jaya bersama memproduksi tempe olahan.
“Alhamdulilah……hari ini 35 bungkus Japleng kemasan 100 gram sudah kita produksi. Semoga si Japleng yang menggemaskan ini dan produk lainnya yang kita olah dapat diterima konsumen,” pinta Widayanti dengan tawa lepasnya.
Naskah: Jhuan
Editor : Jhuan









