Home / Hukum / Nusantara

Minggu, 15 Juni 2025 - 16:46 WIB

Mahkamah Konstitusi Wajib Putuskan Pendapat DPR Terkait Pemakzulan

Sidang Mahkamah Konstitusi

Sidang Mahkamah Konstitusi

JAKARTA – Mahkamah Konstitusi (MK) memiliki kewajiban memberikan putusan terhadap pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran yang dilakukan presiden dan/atau wakil presiden (wapres), sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua MK, Suhartoyo, saat menjadi pemateri dalam Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) Angkatan VII DPC Peradi Jakarta Barat, Minggu (15/6/2025) di kutip dari tribunnews.

“Ini yang sering kita dengar dengan istilah impeachment atau pemakzulan,” ujar Suhartoyo.

Ia menjelaskan, permohonan dari DPR bisa diajukan jika presiden atau wapres diduga melakukan pelanggaran hukum seperti pengkhianatan terhadap negara, tindak pidana korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela.

Alasan lain, lanjutnya, yaitu apabila presiden dan/atau wapres dianggap tidak lagi memenuhi syarat sebagai pemimpin negara sesuai UUD 1945.

Suhartoyo juga memaparkan empat kewenangan utama MK, yakni: menguji undang-undang terhadap UUD 1945 (judicial review), memutus sengketa kewenangan konstitusional antar lembaga negara, memutus pembubaran partai politik, serta menyelesaikan perselisihan hasil pemilu.

Baca Juga :  Bagir Manan Bersama Konstituen Dewan Pers Siap Beri Kesaksian di Sidang MK

Terkait judicial review, Suhartoyo menjelaskan bahwa pengujian terbagi menjadi dua, yakni formil dan materiil. Pengujian formil berkaitan dengan prosedur pembentukan undang-undang, dan harus diajukan maksimal 45 hari setelah UU diundangkan. Jika dikabulkan, maka UU tersebut batal demi hukum.

Sementara, pengujian materiil menyasar substansi atau isi dari UU, tanpa batas waktu pengajuan. “Materi UU yang sudah puluhan tahun pun masih bisa diuji,” jelasnya.

Suhartoyo menyebutkan, pengujian UU terhadap UUD merupakan core business atau tugas pokok MK. Sementara kewenangan lainnya merupakan mandat tambahan yang diberikan oleh pembentuk UU saat mendirikan MK.

Ia juga menjelaskan, MK berwenang menangani sengketa kewenangan antar lembaga negara jika ada pihak yang merasa kewenangannya diganggu oleh lembaga lain.

Baca Juga :  Laporan Teregistrasi di MK, Pasangan DHDS Minta Dilakukan PSU di 51 TPS

Selain itu, MK juga memiliki kewenangan memutus pembubaran partai politik yang asas, tujuan, atau kegiatannya bertentangan dengan konstitusi.

“Pemerintah dapat mengajukan permohonan ke MK untuk membubarkan partai tersebut,” imbuhnya.

Terakhir, MK juga berwenang memutus perselisihan hasil pemilu, baik Pilpres, Pileg, maupun Pilkada. Namun, kewenangan MK dalam menangani sengketa Pilkada diberikan berdasarkan undang-undang, bukan amanat konstitusi.

“Lima kewenangan dan satu kewajiban itulah yang menjadi domain Mahkamah Konstitusi sesuai amanat konstitusi, kecuali sengketa Pilkada,” tegas Suhartoyo.

PKPA DPC Peradi Jakarta Barat ini diikuti 113 peserta, hasil kerja sama DPC Peradi Jakbar, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, dan Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin). **

Editor: Jhuan

Share :

Baca Juga

Nusantara

Presiden Ajak Masyarakat Sambut dan Promosikan Asian Games di Jakarta dan Palembang

Nusantara

Anggaran Penyelenggaraan Pemilu 2019 Capai Rp25,59 Triliun, Naik 61% Dibanding 2014

Nusantara

SMSI Dukung Kapolri Kedepankan ‘Restorative Justice’ dalam Penerapan UU ITE

Nusantara

Bergaul dengan Wartawan, Kajati DKI Dianugerahi Sahabat Pers Indonesia

Ekonomi

Survei MarkPlus Government Roundtable, Modal Usaha Jadi Tantangan Besar Pelaku UMKM Sumatera Selatan

Nusantara

Menjadi Konstituen Dewan Pers, SMSI Satukan Perusahaan Pers di Era Baru

Nusantara

SKK Migas – KKKS Salurkan Bantuan Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera Barat

Nusantara

Aturan Pengendalian Transportasi Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Mulai Diterbitkan