Home / Ekonomi / Nusantara

Senin, 30 Juli 2018 - 11:06 WIB

Kemensos Menargetkan 2019 Prosentase Kemiskinan Turun Jadi 9,3 Persen

JAKARTA, Sumatera Headline – Memajukan kesejahteraan umum salah satu tujuan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan RI yang menjadi dasar Kementrian Sosial dalam mengelaborasi kebijakan pembangunan nasional melalui berbagai program penurunan angka kemiskinan.

Terkait hal itulah, pemerintah melalui Kemensos menargetkan pada Maret 2019 prosentase angka kemiskinan di Indonesia kembali menurun signifikan menjadi 9,3 persen.

Demikian penjelasan Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Harry Hikmat dalam Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema “Fakta Penurunan Angka Kemiskinan” bertempat di Ruang Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Senin (30/7/2018).

Harry menuturkan, ada tiga hal yang menjadi faktor penting dalam upaya menurunkan angka kemiskinan. Pertama, substansi kebijakan dan program pemerintah yang didasarkan pada cita-cita kemerdekaan, amanat konstitusi, dan visi-misi Nawacita Pemerintah.

“Itulah sebabnya penurunan angka kemiskinan di Indonesia merupakan suatu prestasi yang mencerminkan keberhasilan Kabinet Kerja di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo,” katanya.

Kedua, Harry menjelaskan, ada sinergitas pemerintah dan lembaga-lembaga negara, antarkementerian dan antarlembaga pemerintah (BULOG, HIMBARA, TVRI, dan sebagainya).

“Ada juga, sinergitas pemerintah dengan berbagai elemen masyarakat (termasuk kalangan perusahaan swasta melalui berbagai modifikasi program-program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan melalui CSR),” katanya.

Baca Juga :  Bantu Keakuratan Data Penduduk Miskin Merupakan Peranan Penting Pemda Agar Bansos Tepat Sasaran

Sedangkan faktor ketiga, menurut Harry, adalah pola kepemimpinan Presiden Jokowi yang langsung turun ke lapangan memastikan bahwa seluruh kebijakan dan program pembangunan nasional berjalan secara baik dan efektif.

“Perbaikan sistem karena kontrol intensif dilakukan langsung, bahkan dari presiden,” tuturnya

Demi menciptakan efektivitas dalam program pengentasan kemiskinan, Harry membeberkan, Kemensos pun menggelar sejumlah upaya. Termasuk, kegiatan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau Family Development Session (FDS) yang berlangsung paling sedikit seminggu sekali secara efektif.

Tujuannya, menurut Harry, demi memastikan bansos yang diterima itu dimanfaatkan untuk pemenuhan gizi keluarga, biaya kebutuhan pendidikan anak-anak, dan tambahan modal usaha ekonomi produktif dan biaya perawatan lanjut usia dan disabilitas berat yang tinggal bersama KPM PKH.

“Indeks bansos PKH 1,89 juta per tahun tidak besar hanya menambah 8% dari pengeluaran konsumsi perkapita. Idealnya antara 25 sampai dengan 40%,” katanya.

Menurut Harry pendamping PKH, harus juga memastikan penerima PKH mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau Beras Sejahtera (Rastra), Sertifikat tanah secara gratis, Bantuan pemberdayaan ekonomi (KUBE, KUR, KUT, dll), Rumahnya dipugar agar layak huni, Bayar listrik bersubsidi, LPG 3 kg, dan bantuan sosial lainnya.

Baca Juga :  Garis Kemiskinan yang Ditetapkan BPS Sudah di Atas Standar Bank Dunia

“Penyaluran bansos secara terintegrasi merupakan faktor kunci yang mempunyai daya ungkit meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Diyakini, bila satu keluarga sudah mendapatkan beragam bansos, subsidi pemerintah dan diberdayakan secara ekonomi produktif, hasilnya kesejahteraan akan meningkat dalam tiga sampai lima tahun,” tuturnya.

Sementara indikator keberhasilan, katanya akan tampak dari perubahan sikap dan perilaku KPM PKH yang akan mengarah pada kemandirian dan adanya peningkatan produktivitas secara ekonomi.

“Kini ada PKH sebanyak 10 juta KPM, dengan pendamping sebanyak 40.225 orang. Sehingga, dapat dipastikan itu mendorong keluarga penerima manfaat PKH menjadi sejahtera sehingga keluar dari perangkap kemiskinan,” katanya.

Harry juga menguraikan, pada 2017 ada 320.000 KPM yang telah naik kelas graduasi sejahtera mandiri. “Lebih dari 80% penerima PKH sekarang telah menjadi pelaku usaha ekonomi produktif, sehingga dapat mengurangi kesenjangan antarkelompok pendapatan,” katanya.

Turut hadir pula dalam FMB 9 kali ini Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Harry Hikmat, Kepala BPS Suhariyanto, dan Sekretaris Eksekutif TNP2K Bambang Widianto.

Editor : J. Silitonga

Sumber : FMB’9

Share :

Baca Juga

Nusantara

Unggulkan Kemandirian Pangan dan Energi untuk Rakyat

Nusantara

SKK Migas Bersama Lintas Kementerian Kunjungi Wilayah Kerja Rokan

Lubuklinggau

Wali Kota Lubuklinggau Terima Penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden

Nusantara

Optimasi Pengembangan Lapangan SLO Tahap-4 WK Rokan Disetujui, PHR Tambah Investasi Hulu Migas Rp. 12.5 Triliun

Nusantara

Dewan Pers Verifikasi Faktual SMSI DKI Jakarta

Nusantara

Kementerian PUPR Bangun Fasilitas Pendidikan 4 PTN dan PTKIN di Sulawesi Selatan

Nusantara

Usai Umroh, Presiden Jokowi Beserta Ibu Negara Iriana dan Rombongan Kembali ke Tanah Air

Nusantara

Bergaul dengan Wartawan, Kajati DKI Dianugerahi Sahabat Pers Indonesia
error: Content is protected !!