MUSI RAWAS — Api biru menyala tenang di atas kompor milik Usman. Di dapur sederhana rumah semi permanen di Desa Bangun Rejo, pagi itu berjalan seperti biasanya. Pria berusia 38 tahun tersebut menyiapkan sarapan untuk istri dan dua buah hatinya sebelum memulai aktivitas.
Tak ada kegelisahan ketika kompor dinyalakan. Tak ada pula kekhawatiran gas akan habis di tengah proses memasak. Usman tidak perlu lagi berkeliling mencari tabung LPG 3 kilogram, menunggu pasokan datang, atau mengantre di pangkalan ketika kebutuhan sedang mendesak.
Kini, energi untuk dapurnya mengalir langsung dari dalam bumi Musi Rawas melalui jaringan pipa gas yang terhubung ke rumahnya di Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.
“Kalau soal stok gas, kami tidak khawatir lagi karena sudah terpasang jargas yang langsung dari sumur gas,” ujar Usman saat ditemui di rumahnya yang sederhana.
Bagi Usman, karyawan PT PHML, jaringan gas rumah tangga atau jargas bukan sekadar teknologi penyaluran energi. Jargas telah mengubah cara keluarganya memenuhi kebutuhan sehari-hari yang dirasa lebih praktis, lebih hemat, dan lebih memberikan kepastian.
Perubahan itu mungkin tidak terlihat megah. Tidak ada bangunan monumental ataupun mesin raksasa di halaman rumahnya. Hanya pipa yang menyalurkan gas dan api biru yang menyala di atas kompor.
Tetapi dari nyala kecil itu manfaat inovasi menjadi nyata. Sebab, bagi sebuah keluarga, kenyamanan memasak tanpa takut kehabisan gas bukan perkara sepele. Ada waktu yang bisa dihemat dan pengeluaran yang dapat ditekan juga ketenangan yang tumbuh ketika kebutuhan dasar rumah tangga bisa dipenuhi dengan lebih mudah.
Di dapur Usman, energi tidak lagi sebatas komoditas. Energi telah menjadi bagian dari ikhtiar keluarga untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Petugas Pertagas Niaga melakukan pengecekan Jargas Rumah Tangga di Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Musi Rawas, Sumsel
Dari Energi Bumi, Hadirkan Perubahan di Rumah Warga
Kabupaten Musi Rawas dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi. Di balik aktivitas industri yang berlangsung di wilayah ini, tersimpan potensi besar untuk menghadirkan manfaat yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu wujudnya adalah pembangunan jaringan gas rumah tangga yang memungkinkan gas bumi dimanfaatkan secara langsung oleh warga.
Program tersebut dimulai pada 2018 melalui pembangunan 5.182 sambungan rumah (SR) di 10 desa di Kecamatan Sukakarya. Jaringan gas itu kemudian diresmikan pengoperasiannya pada 15 Maret 2019 di Desa Rantau Alih, Kecamatan Sukakarya, dengan memanfaatkan pasokan gas dari sumur PT Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field sekitar 0,2 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).
Pengembangan berlanjut pada 2020. Sebanyak 4.809 sambungan rumah tambahan dibangun di tujuh desa di Kecamatan Tuah Negeri.
Hingga saat ini, total 9.999 sambungan rumah tercatat dalam pembangunan tersebut yang menjangkau 17 desa di dua kecamatan.
Di balik angka-angka tersebut, ada ribuan dapur yang memperoleh akses energi dengan cara berbeda. Ada ibu yang bisa menyiapkan sarapan tanpa mencemaskan persediaan gas, pelaku usaha kecil yang membutuhkan energi untuk menjaga kegiatan produksi, serta keluarga yang dapat merencanakan pengeluaran dengan lebih terukur.
Koordinator Lapangan Jargas PT Pertagas Niaga Musi Rawas, Ari Sobaryadi, mengatakan jaringan gas rumah tangga menjadi salah satu bentuk pemanfaatan energi yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Jargas bumi saat ini telah menjangkau ribuan rumah tangga yang tersebar di Kecamatan Sukakarya dan Kecamatan Tuah Negeri,” katanya.
Menurut Ari, pelanggan rumah tangga dikenakan tarif sekitar Rp4.250 per meter kubik. Besaran tagihan bergantung pada volume pemakaian, dengan rata-rata pengeluaran pelanggan yang disebut berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per bulan.
“Kalau menurut saya dan pelanggan, jauh lebih hemat. Rata-rata warga sebulan pemakaian sekitar Rp30 ribu sampai Rp50 ribu. Kalau yang punya usaha atau rumah makan tentu lebih irit lagi dibanding menggunakan tabung gas,” jelas Ari.
Bagi rumah tangga dengan pendapatan yang harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, selisih pengeluaran energi dapat memiliki arti penting. Uang yang sebelumnya dialokasikan untuk membeli LPG bisa dikelola kembali untuk memenuhi kebutuhan lain, termasuk pendidikan anak, belanja dapur, dan keperluan keluarga.
Kembali ke Usman, situasi ini sangat berharga sekali mengingat kebutuhan hidup yang mulai melambung tinggi.
“Keberadaan jargas ini sangat membantu kami warga desa karena selain murah dan praktis juga cukup efektif,” ujar Usman dengan kerutan di keningnya menandakan perjuangan hidup yang terus Ia lalui.
Ia memperkirakan pengeluaran keluarganya untuk gas melalui jaringan tersebut berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per bulan.
“Sebelumnya kami pakai gas 3 kilogram. Meskipun subsidi, masih terasa boros. Dengan penggunaan jargas, lebih hemat, rata-rata pemakaian per bulannya di kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu,” tuturnya.
Penghematan tersebut bukan sekadar perbandingan biaya. Bagi Usman, pengeluaran yang lebih terkendali memberikan ruang untuk mengatur kebutuhan rumah tangga dengan lebih baik.
Di tengah tanggung jawab sebagai suami dan ayah dari dua anak, setiap rupiah memiliki arti. Ada kebutuhan hari ini yang harus dipenuhi, tetapi ada pula masa depan anak-anak yang ingin dipersiapkan.
Di sinilah inovasi menemukan maknanya, bukan hanya ketika teknologi berhasil bekerja, melainkan ketika manfaatnya membantu masyarakat menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Sebelum menggunakan jargas, keluarga Usman bergantung pada ketersediaan tabung LPG. Ketika gas habis, aktivitas memasak bisa terganggu. Mereka harus mencari tabung pengganti, sementara ketersediaan di pasaran tidak selalu sesuai dengan kebutuhan.
Kini, kebutuhan memasak dapat dipenuhi melalui jaringan pipa yang tersambung langsung ke rumah.
Peralihan tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat dapat merangkul perubahan ketika inovasi menawarkan solusi yang relevan dengan kebutuhan mereka.
Jargas mengubah pola pemenuhan energi dari sistem pembelian tabung secara berkala menjadi layanan berbasis jaringan. Selama pasokan dan jaringan beroperasi dengan baik, pelanggan tidak perlu menyimpan tabung cadangan untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
Ari Sobayardi mengatakan, kemudahan akses menjadi salah satu manfaat yang paling dirasakan pelanggan.
“Warga lebih aman dan lebih nyaman. Tidak perlu susah mencari gas pagi, siang, maupun malam. Tidak perlu kepanasan atau kehujanan mencari tabung gas. Jargas tersedia 24 jam terus-menerus,” ujarnya.
Meski demikian, kemudahan tersebut tetap perlu ditopang oleh pemeliharaan jaringan, pengawasan operasional, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Penggunaan gas bumi melalui pipa bukan berarti bebas risiko. Pemeriksaan instalasi dan penanganan yang tepat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pelanggan.
Inovasi yang berkelanjutan bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara andal, aman, dan bertanggung jawab.
Bagi Usman, perubahan itu tidak membutuhkan penjelasan teknis yang rumit untuk dipahami. Ia cukup melihat hasilnya setiap hari: kompor menyala ketika dibutuhkan, pekerjaan rumah tangga menjadi lebih praktis, dan biaya energi lebih mudah diperhitungkan.
Dari pengalaman sederhana itu, inovasi mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Industri Migas, Manfaat yang Melampaui Produksi
Di balik jaringan pipa yang mengalirkan gas ke rumah warga, terdapat rangkaian panjang aktivitas industri hulu minyak dan gas bumi. Eksplorasi, pengembangan lapangan, produksi, serta pengelolaan sumber daya energi menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan energi.
Namun, keberhasilan industri hulu migas tidak semestinya hanya dilihat dari besarnya produksi atau capaian operasional. Dampaknya juga dapat ditelusuri dari seberapa jauh sumber daya tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Program jargas rumah tangga di Musi Rawas menjadi salah satu gambaran bagaimana energi yang berasal dari kegiatan produksi dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Manfaatnya hadir dalam bentuk akses energi, pengeluaran rumah tangga yang lebih terkendali, serta peluang bagi usaha kecil untuk menjalankan kegiatan sehari-hari dengan lebih praktis.
Efek berganda sektor hulu migas juga dapat tumbuh melalui penyerapan tenaga kerja, penggunaan barang dan jasa lokal, serta program pemberdayaan masyarakat. Berbagai manfaat tersebut tentu bergantung pada pelaksanaan program, keterlibatan masyarakat, dan kesinambungan kegiatan ekonomi di daerah.
Bagi masyarakat, hubungan antara industri energi dan kesejahteraan menjadi lebih mudah dipahami ketika manfaatnya hadir dalam kehidupan nyata. Gas yang sebelumnya dikenal sebagai hasil produksi dari lapangan migas kini menjadi energi untuk memasak di rumah.
Saat di temui di ruangan kerjanya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Rawas, Teddy Lazuardi, menilai program jargas merupakan salah satu bentuk pembangunan yang manfaatnya bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, pembangunan jaringan gas yang didanai APBN pada 2018 dan 2020 di Kecamatan Sukakarya dan Tuah Negeri telah memberikan manfaat bagi warga.
“Program ini sangat baik karena manfaatnya langsung bersentuhan dengan masyarakat. Dampaknya bukan hanya untuk kebutuhan energi rumah tangga, tetapi juga membantu meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Teddy menjelaskan, akses energi yang lebih mudah dapat membantu mengurangi beban pengeluaran rumah tangga. Bagi pelaku usaha kecil dan UMKM yang membutuhkan energi untuk memasak atau mengolah produk, ketersediaan pasokan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kelancaran kegiatan usaha.
“Ini menjadi efek berganda dari sektor migas. Masyarakat tidak lagi kesulitan mencari gas, biaya lebih ringan, dan usaha kecil juga terbantu,” kata Teddy.
Meski demikian, ia berharap pengembangan jaringan gas tidak berhenti di dua kecamatan tersebut. Masyarakat di wilayah lain, terutama kawasan yang memiliki kedekatan dengan sumber produksi migas, juga diharapkan dapat menikmati manfaat serupa apabila didukung kelayakan teknis, ketersediaan pasokan, dan perencanaan yang memadai.
“Program seperti ini memang perlu dikembangkan dan diperluas. Harapan kami, daerah-daerah lain di Musi Rawas yang dekat dengan wilayah produksi migas juga dapat menikmati manfaat yang sama,” ujarnya.
Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi tidak seharusnya berhenti setelah sebuah program dibangun. Inovasi perlu terus dievaluasi, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, dan dikembangkan agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak orang.
Di sisi lain, Teddy mengingatkan bahwa pengembangan industri migas harus tetap berjalan seiring dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pemanfaatan sumber daya alam, menurutnya, perlu dilakukan secara bertanggung jawab agar manfaat ekonomi yang diperoleh hari ini tidak mengorbankan kualitas lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Sebagai daerah penghasil migas, sudah selayaknya kita menikmati hasilnya. Semua butuh proses,” katanya.
Pernyataan itu menegaskan satu hal penting bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang memastikan energi tetap tersedia, melainkan juga menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi, kebutuhan sosial, dan kelestarian lingkungan.
Dari Nyala Api Menjadi Harapan untuk Masa Depan

Keluarga Kecil Usman warga Desa Bangun Rejo melakukan aktivitas memasak dengan memanfaatkan Jargas Rumah Tangga
Pagi di rumah Usman mungkin tidak berbeda jauh dari pagi keluarga lainnya. Ada sarapan yang harus disiapkan, anak-anak yang bersiap menjalani aktivitas, serta kebutuhan rumah tangga yang menunggu untuk dipenuhi.
Namun, di balik rutinitas yang tampak biasa itu, ada perubahan yang memiliki arti lebih dalam.
Api biru di atas kompor menjadi simbol kemudahan yang dahulu tidak selalu bisa dinikmati keluarganya. Gas mengalir melalui pipa, waktu tidak lagi banyak tersita untuk mencari tabung, dan biaya energi dapat dikelola dengan lebih terukur.
Bagi Usman, manfaat itu terasa dekat dengan impian sederhana setiap orang tua untuk memberikan kehidupan yang lebih baik kepada anak-anaknya.
Ia mungkin tidak menghitung manfaat jargas melalui angka produksi, volume gas, atau nilai investasi industri. Ia merasakannya melalui hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupannya, pengeluaran bulanan, kemudahan memasak, dan ketenangan ketika kebutuhan keluarga harus dipenuhi.
Di antara kesibukan menyiapkan sarapan, ada harapan yang diam-diam terus dijaga. Harapan agar kedua anaknya dapat tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang baik, dan kelak memiliki kesempatan untuk menggapai cita-cita.
Penghematan dari dapur tentu tidak dengan sendirinya menjamin masa depan yang lebih baik. Namun, ketika kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi dengan lebih efisien, sebuah keluarga memperoleh ruang untuk mengatur prioritas dan merencanakan langkah berikutnya.
Di situlah manfaat inovasi menjadi manusiawi, dimana sumber daya yang tersimpan jauh di dalam bumi tidak lagi hanya dipahami sebagai komoditas industri. Melalui pengelolaan dan pemanfaatan yang tepat, energi dapat hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat untuk membantu aktivitas rumah tangga, mendukung usaha kecil, dan membuka peluang bagi kesejahteraan yang lebih luas.
Bagi Musi Rawas, yang dikenal dengan semangat Bumi Lan Serasan Sekentenan, jargas menjadi salah satu gambaran bagaimana pembangunan dapat diterjemahkan ke dalam manfaat sehari-hari.
Tentu, masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Perluasan akses, keandalan pasokan, pemeliharaan jaringan, keselamatan penggunaan, serta perlindungan lingkungan harus terus menjadi perhatian agar manfaatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.
Harapan masyarakat di kecamatan lain agar dapat menikmati akses serupa juga menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari jumlah sambungan yang telah terpasang, tetapi dari kemampuannya menjawab kebutuhan yang lebih luas.
Pada akhirnya, Energizing Innovation bukan semata-mata tentang menghadirkan teknologi atau menemukan cara baru menyalurkan energi. Lebih dari itu, inovasi adalah keberanian merangkul perubahan, kemampuan beradaptasi terhadap tantangan, dan kemauan untuk terus mencari solusi yang memberi manfaat bagi manusia sekaligus menjaga keberlanjutan.
Pagi itu, ketika Usman menyiapkan sarapan untuk istri dan kedua anaknya, api biru kembali menyala tenang. Tak ada gemuruh mesin, tak ada sorotan lampu, dan tak ada kemegahan yang perlu dipertontonkan. Hanya sebuah keluarga kecil yang menjalani pagi dengan lebih nyaman.
Namun, dari nyala sederhana itulah sebuah cerita besar menemukan maknanya bahwa energi yang berasal dari perut bumi dapat menjadi bagian dari harapan manusia dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di kemudian hari.
Editor: Jhuan









