Home / Ekonomi / Nusantara

Rabu, 7 September 2022 - 16:18 WIB

Presiden Jokowi: Perlu Pemikiran ‘Abu Nawas’ dalam Menghadapi Krisis

Presiden Jokowi membuka secara resmi Sarasehan 100 Ekonom Indonesia Tahun 2022, Rabu (07/09/2022), di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan

Presiden Jokowi membuka secara resmi Sarasehan 100 Ekonom Indonesia Tahun 2022, Rabu (07/09/2022), di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan

JAKARTA, Sumatera Headline – Perlu pemikiran ‘Abu Nawas’ dalam menghadapi krisis dan situasi yang penuh ketidakpastian,  seperti saat ini,  harus dapat meninggalkan cara-cara lama, bekerja juga harus fokus dan detail, tidak hanya makro saja namun juga mikro.

Hal itu dikatakan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Sarasehan 100 Ekonom Indonesia Tahun 2022, Rabu (07/09/2022), di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan.

Forum yang dihadiri sebanyak 100 ekonom dengan berbagai latar belakang profesi ini mengangkat tema ‘Normalisasi Kebijakan Menuju Pemulihan Ekonomi Indonesia’.

“Saya juga titip pada para ekonom, jangan menggunakan pakem-pakem yang ada, jangan menggunakan sesuatu yang standar, karena ini keadaannya tidak normal, sangat tidak normal. Dibutuhkan pemikiran yang ‘Abu Nawas’, yang kancil-kancil gitu, agak melompat-lompat, tapi memang, memang harus seperti itu,” ujar Presiden.

Selain itu, Presiden juga menekankan bahwa dalam bekerja di tengah situasi yang sangat tidak normal seperti sekarang dibutuhkan kerja yang sangat detail bukan hanya pada level makro.

“Bekerja sekarang pun tidak bisa makro saja, enggak bisa. Ditambah mikro pun mungkin masih juga belum dapat. Sehingga makro iya, mikro iya, detail, fokus,” ujarnya.

Presiden mengungkapkan, perubahan yang bergitu cepat saat ini diawali dengan pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Presiden pun bersyukur bahwa Indonesia tidak mengambil kebijakan lockdown yang dinilai akan membuat perekonomian nasional terkontraksi lebih dalam.

Baca Juga :  Presiden Siap Perkuat Kerja Sama dengan Korea Selatan

“Saat itu saya semadi, saya endapkan betul, apa benar kita harus melakukan itu. Dan jawabannya, saat itu saya jawab tidak usah lockdown, dan ternyata betul. Saya enggak bisa membayangkan kalau saat itu kita lockdown. Mungkin kita bisa masuk ke minus lebih dari 17 persen,” ujarnya.

Adanya pandemi, lanjut Presiden, mengajarkan bangsa Indonesia akan pentingnya konsolidasi semua komponen untuk mengatasi berbagai persoalan.

“Dari pandemi kita juga belajar banyak mengenai bagaimana menghadapi guncangan-guncangan. Belajar sangat banyak, bagaimana mengonsolidasi negara ini agar bisa bersama-sama dari semua, dari pusat, kemudian provinsi, daerah sampai ke tingkat RT, dari yang namanya ormas bergabung dengan TNI, dengan Polri, masyarakat semuanya bergerak bersama-sama,” ujarnya.

Presiden menilai, konsolidasi seperti itu harus dilanjutkan untuk menghadapi pascapandemi serta ancaman krisis yang melanda dunia.

“Konsolidasi seperti itulah yang harus kita teruskan dalam menghadapi pascapandemi karena perang, karena adanya krisis energi, karena adanya krisis pangan, adanya krisis finansial. Yang paling penting kita bisa mengonsolidasi dari atas sampai ke bawah,” ujarnya.

Baca Juga :  Bersama Menteri Energi Arab Saudi, Presiden Jokowi Membahas Kerjasama di Bidang Energi

Selain itu, Presiden juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta bahu-membahu bersama pemerintah untuk menuju Indonesia maju.

“Yang paling penting menurut saya jaga persatuan, jaga kesatuan kita, bahu-membahu untuk negara ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad dalam sambutannya juga mendukung adanya kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, media, hingga kalangan akademisi untuk menjadi bagian dari upaya normalisasi perekonomian nasional.

“Perlu aksi-aksi nyata dalam proses normalisasi dengan melihat tantangan dan peluang yang saat ini terjadi,” ucap Tauhid.

Ia pun berharap kehadiran 100 ekonom dalam sarasehan ini dapat menjadi salah satu upaya untuk merumuskan rekomendasi beragam pilihan kebijakan terbaik agar ekonomi Indonesia dapat kembali pulih dan bangkit pascapandemi.

“Diharapkan dengan Sarasehan 100 Ekonom menghasilkan pokok-pokok pikiran yang menjawab upaya bangsa ini kembali pulih dan masyarakat lebih sejahtera,” tutur Tauhid.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Keuangan Sri Mulyani, CEO CT Corp Chairul Tanjung, dan Senior Ekonom INDEF Didik J Rachbini. (SH-02)

Sumber: Setkab

Share :

Baca Juga

Nusantara

Presiden Jokowi Sambut Kelahiran Cucu Kelima, Anak Ketiga Pasangan Kahiyang Ayu dan Boby Nasution

Nusantara

Atal S Depari Terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat Periode 2018-2023

Nusantara

Aturan Pengendalian Transportasi Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Mulai Diterbitkan

Nusantara

Pemimpin Negara G20 Kunjungi Taman Hutan Raya Ngurah Rai

Nusantara

Daftarkan Karya Mu dalam Ajang Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2022, Ini Syarat dan Pendaftaran

Ekonomi

Dongkrak Daya Saing Industri, SKK Migas Harapkan Multiplier Effect Hulu Migas Meningkat

Nusantara

Menko Polhukam Setuju Lapas Khusus Dipindah ke Pulau Terpencil

Nusantara

Presiden Jokowi Tinjau Arus Mudik di Pasar Senen