Home / Ekonomi / Nusantara / Sumsel

Senin, 16 November 2020 - 09:39 WIB

Survei MarkPlus Government Roundtable, Modal Usaha Jadi Tantangan Besar Pelaku UMKM Sumatera Selatan

JAKARTA, SH – Pemulihan ekonomi terus gencar dilakukan pemerintah paska pandemi Covid-19 termasuk pemulihan ekonomi di daerah Sumatera Selatan (Sumsel) melalui UMKM. Oleh karena itu, MarkPlus melakukan riset yang bertujuan untuk mengetahui ketertarikan masyarakat terhadap investasi sebagai wirausaha di Sumsel.

Demikian disampaikan Senior Business Analyst MarkPlus, Inc. Anggia Aryandita di acara webinar dalam MarkPlus Government Roundtable bertajuk Pemulihan Ekonomi di Sumatera Selatan Melalui UMKM, Senin (16/11/2020).

Anggia mengatakan, riset ini juga bertujuan untuk mengetahui kendala dan langkah yang dihadapi masyarakat dalam berwirausaha serta mengetahui peluang dan ketertarikan usaha di daerah Sumsel.

Dimana, survei yang dilakukan ini menyasar kepada 35 responden dengan dominasi 65,7% pria dan usia 40% responden 25 sampai 34 tahun dan 37,1% berusia dibawah 25 tahun ini menunjukan minat masyarakat Sumsel yang cukup tinggi terhadap aktivitas wirauasaha.

Baca Juga :  Menkominfo Dorong UMKM Bangkit dengan Pasar Digital

“Lebih dari 57% responden mengatakan telah mulai berwirausaha dan lebih dari 14% mulai berwirausaha semenjak pandemi ini,” ujar Anggia Aryandita.

Dia menjelaskan, ketertarikan masyarakat berwirausaha di era pandemi mengalami peningkatan, di mana 28,6% responden berniat berwirausaha dalam waktu dekat dengan bidang usaha makanan & minuman, fashion, retail/eceran, kerajinan, dan tekstil.

Selain itu, jenis bidang usaha terkait Covid-19 juga banyak dilirik oleh 51,4% responden.

“Mereka tertarik untuk memulai berwirausaha dengan jenis usaha jual beli masker, produk herbal/vitamin, sanitizer, alat test rapid mandiri, dan jual beli face shield,” jelasnya.

Sementara, sebanyak 71,4% responden tertarik sebagai pemilik modal dan pelaku usaha dengan sumber permodalan 68,6% pribadi, 57,1% teman/keluarga dan 28,6% kredit Bank,

“Kesedian pelaku usaha mengeluarkan biaya untuk penerapan protokol kesehatan sudah tergolong tinggi di angka 4,23 dengan skala 1 sampai 6, dimana 1 untuk sangat tidak bersedia dan 6 sangat bersedia,” urainya.

Baca Juga :  RA Anita Bagikan Paket Sembako ke Petugas TPU Gandus

Anggia menambahkan, berwirausaha pada masa pandemi ini memiliki berbagai tantangan terkait distribusi bahan baku atau supplier. Sebesar 55,6% responden mengaku adanya peningkatan harga, 38,9% pengiriman yang memakan waktu lama, 33,3% ketersediaan yang terbatas serta 11,1% kualitas bahan baku dari supplier yang menurun.

Selain itu responden juga merasakan kendala terkait permodalan sebanyak 54,3%, persaingan yang tinggi sebanyak 31,4%, jaringan pemasaran sebanyak 31,4%, dan menurunnya permintaan sebanyak 28,6%.

“Sebagai solusi dari kendala-kendala diatas, para wirausahawan dapat melakukan beberapa hal, di antaranya mengajukan permohonan ke bank daerah Sumatera Selatan, mengajukan permohonan ke Bank BUMN, dan mengajukan permohonan ke bank swasta,” terangnya.

Editor: J. Silitonga

Share :

Baca Juga

Musi Rawas

Wabup Musi Rawas Buka Sosialisasi dan Pembentukan Gugus Tugas GNRM

Musi Rawas

Polres Musi Rawas Lakukan Pengamanan Annivesary Kracker Silampari Supermoto

Musi Rawas

Keberhasilan Plasma PT Evan Lestari, Koperasi KSU PKS Lubuk Ngin Bersatu Diresmikan

Lubuklinggau

Kapolsek Lubuk Linggau Timur I Bantu Keluarga Terlantar Asal Yogyakarta

Covid-19

Satgas Covid-19 Terbitkan Surat Edaran tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri, Berlaku Mulai 17 Juli 2022

Musi Rawas

Musi Rawas Raih Penghargaan Kabupaten Terinovatif ke Empat

Hukum

Polisi Temukan 3.700 Batang Ganja di Lahan Seluas 1,5 Hektar di Muratara

Advertorial

Bupati Musi Rawas Lantik 4 Penjabat Kades