Oleh: Hendy UP *)
Sebelum melacak asal-usul Marga, ada baiknya sedikit agak surut ke belakang, ke zaman bari yang sangat lampau. Jikalau kita mengikuti pemikiran para ahli geologi yang dikutip Koentjaraningrat dalam buku “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia” (1971), ternyata pulau Sumatera ini dahulunya adalah bagian dari Dataran Sunda (Sundaland) yang menyatu dengan pulau Jawa dan Kalimantan serta ribuan pulau-pulau kecil di sekelilingnya yang berinduk pada daratan Asia Tenggara.
Konon, geografi kepulauan Indonesia yang seperti sekarang ini terbentuk pada zaman es akhir (Glacial Wurm), setelah jutaan tahun sebelumnya melewati fase Glacial Gunz, Glacial Mindel dan Glacial Ritz. Ketika es kutub mencair sekitar 14.000 ~ 7.000 tahun lampau, maka terjadilah banjir besar yang menenggelamkan seluruh dataran rendah dan terbentulah pulau-pulau Nusantara ini yang dahulu lebih dikenal dengan Nusantao.
Mungkinkah banjir besar kala itu adalah di era Nabi Nuh dengan kisah perahu dan kaumnya, sebagaimana dikisahkan dalam al~Qur’anul Karim pada surat Al-Ankabut ayat 14 dan Asy-Syu’ara ayat 129 ~ 120? Allohu’alam bishshowab. Barangkali saja!
Juga, apakah penghuni awal pulau Sumatera ini (termasuk di kawasan Palembang dan Muarabeliti) sudah ada sejak masih menyatu dengan daratan Asia Tenggara, pulau Jawa dan Kalimantan? Ataukah, suku purba Proto Melayu dan Deutro Melayu yang masuk dari Muara Musi adalah manusia pertama penghuni kawasan Muarabeliti, Muararupit dan Muarakelingi?
Agaknya, hasil riset ahli genetika sekaliber Steven Oppenheimer pun, belum sedetail itu dalam mengungkap fakta manusia purba Nusantara. Seminar di LIPI pada 28 Oktober 2010 lalu, yang membedah Teori Oppenheimer (Eden in the East; 1998) baru pada tahapan kajian bahwa “Revolusi Neolitik” diduga berawal dari Nusantara dan oleh karenanya “induk peradaban dunia” mungkin berasal dari Indonesia.
Jika kita meyakini bahwa Nabi Adam diturunkan ke Bumi di sekitar daratan Afrika atau India atau Saudi Arabia, berikut turunan generasi awal hingga ke Nabi Nuh, bisa saja ada yang melancong ke Nusantara. Lalu membangun peradaban, sebagaimana diyakini oleh Oppenheimer. Karena kesuburan tanahnya sangat mendukung pertumbuhan generasi ketimbang kawasan nontropika, maka sangatlah masuk akal jika kepulauan Nusantara menjadi awal perdaban dunia. Allohu’alam bishshowab!
Asal Sebutan Marga
Dalam KBBI dan ilmu tatabahasa Indonesia, kosa kata “marga” adalah termasuk kata benda (klas nomina) yang bersifat “homonim” dengan setidaknya 8 makna. Bisa berarti: binatang liar, jalan, bagian wilayah, pedoman hidup, satuan taksonomi, genus, kelompok kekerabatan yang eksogam dan unilinier (suku Batak), dan sistem kekerabatan dan/atau pemerintahan adat yang berazaskan rumpun genealogis, teritoriale atau gabungan keduanya.
Menurut Arlan Ismail (2004), yang mengutip buku “De Palembangsche Marga” karya JW van Royen (1927), bahwa peradaban dan penduduk uluan Keresidenan Palembang berasal dari tiga kawasan pegunungan, yakni: Gunung Seminung (Ogan Komering Ulu), Gunung Dempo (Pasemah) dan Gunung Kaba (Rejanglebong). Ketiga pusat peradaban bari (kuno) tersebut terhubung oleh jalur transportasi sungai Musi dengan sembilan anak-anaknya yang dikenal dengan “batanghari sembilan”.
Dari kawasan Gunung Seminung dan Danau Ranau, manusia “Jelma Daya” turun menyusuri sungai Komering hingga di Gunung Batu. Lalu dari kawasan pegunungan Dempo, komunitas suku Pasemah dan Serawai menyebar melalui sungai-sungai Lematang, Enim, Kikim, Lingsing, Musi bagian tengah dan sungai Ogan bagian hulu. Sementara dari kawasan Gunung Kaba turun ke lembak, komunitas suku Rejang melalui hulu sungai Musi, Rawas, Kelingi, Beliti, Lakitan, Lematang bagian hilir, Keruh dan Penukal membentuk peradaban tersendiri yang agak berbeda dengan komunitas Ogan~Komering dan Pasemah~Serawai. [Bersambung… ]
*) Muarabeliti, 30 Mei 2022








