LUBUKLINGGAU — SMA Negeri 2 Lubuklinggau, Sumatera Selatan, menggagas program SMANDA Cerdas untuk memperkuat karakter siswa sekaligus meningkatkan prestasi akademik dan kualitas sekolah.
Program yang merupakan akronim dari Cepat, Terampil, Disiplin dan Berkualitas tersebut mencakup penguatan karakter dan kedisiplinan siswa, pembinaan Olimpiade Sains Nasional (OSN), peningkatan prestasi akademik, program Adiwiyata, serta pengembangan kantin sehat.
Kepala SMAN 2 Lubuklinggau, Zulkarnain, mengatakan program tersebut disusun berdasarkan evaluasi terhadap kondisi sekolah, khususnya untuk meningkatkan motivasi siswa dalam bidang akademik.
Menurutnya, selama ini kegiatan ekstrakurikuler di sekolah berjalan baik. Namun, siswa perlu lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan akademik agar mampu bersaing dalam TKA, seleksi perguruan tinggi negeri maupun sekolah kedinasan.
“Harapan kami, kegiatan-kegiatan yang ada tetap sebagai pendamping. Kegiatan utama di sekolah adalah belajar, memiliki kemampuan akademik yang tinggi dan mampu melanjutkan ke perguruan tinggi negeri maupun tempat kerja yang diakui masyarakat,” kata Zulkarnain saat memaparkan program SMANDA Cerdas bersama Komite Sekolah di ruang rapat SMAN 2 Lubuklinggau, Selasa (22/9/2026).
Salah satu fokus program tersebut yakni meningkatkan prestasi siswa kelas XII. Sekolah menyiapkan program pengayaan untuk menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) serta meningkatkan hasil penilaian siswa.
Pengayaan akan diarahkan pada sejumlah mata pelajaran, di antaranya Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris serta mata pelajaran bidang IPA dan IPS.
Zulkarnain mengatakan pembinaan khusus juga akan diberikan kepada siswa yang memiliki potensi mengikuti OSN. Pembinaan mencakup sejumlah bidang, seperti Matematika, Fisika, Kimia dan Astronomi.
“Kami berharap ke depan muncul siswa-siswa SMAN 2 Lubuklinggau yang mampu berprestasi di tingkat kota, provinsi hingga nasional,” ujarnya.
Selain akademik, SMANDA Cerdas menempatkan penguatan karakter dan disiplin sebagai bagian penting program. Sekolah berupaya memastikan proses pembelajaran berlangsung efektif, termasuk meminimalkan jam kosong dan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa selama berada di lingkungan sekolah.
Di bidang lingkungan, SMAN 2 Lubuklinggau menargetkan peningkatan program Adiwiyata hingga tingkat nasional. Program tersebut diarahkan untuk membangun kepedulian siswa terhadap kebersihan, pengelolaan sampah dan lingkungan sekolah.
Sekolah juga menyiapkan pengembangan kantin sehat dengan memperhatikan kebersihan, kelayakan makanan dan kenyamanan siswa.
“Anak-anak tetap boleh makan ketika lapar, tetapi bagaimana prosesnya terlaksana dengan baik. Dari sisi pengawasan maupun kelayakan makanan harus diperhatikan,” jelas Zulkarnain.
Ia menambahkan, pelaksanaan sejumlah inovasi dalam SMANDA Cerdas membutuhkan dukungan dari seluruh warga sekolah dan Komite Sekolah. Sebab, tidak seluruh kegiatan inovasi dapat dibiayai melalui anggaran operasional sekolah.

Lima program SMANDA Cerdas
Sementara itu, Pengawas SMA Negeri 2 dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Sunardi mengapresiasi inisiatif SMAN 2 Lubuklinggau melalui program SMANDA Cerdas.
Menurutnya, program tersebut menunjukkan adanya upaya sekolah bersama komite dan guru untuk menyatukan visi dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Ia juga mendorong sekolah memanfaatkan Rapor Pendidikan sebagai salah satu dasar evaluasi. Setiap indikator yang masih perlu diperbaiki, menurutnya, perlu dianalisis dan ditindaklanjuti secara bersama.
“Ketika kita mampu memberikan layanan yang baik terhadap kinerja yang ada di sekolah ini, akhirnya adalah kepuasan. Ketika masyarakat puas terhadap pelayanan sekolah, itu merupakan keberhasilan bersama,” ujarnya.
Ia berharap SMANDA Cerdas dapat menjadi bagian dari budaya sekolah sehingga peningkatan kualitas pembelajaran, prestasi akademik, karakter dan kepedulian lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dalam rapat tersebut juga dihadiri Kepsek SMAN 2, Zulkarnain, Pengawas SMAN 2, Sunardi, Ketua Komite SMAN 2, Suparto Ujang berserta pengurus Komite Sekolah dan para guru.
Editor: Jhuan









