JAKARTA, SH – Pemerintah mulai melakukan tes massal di daerah yang rawan terinfeksi Covid-19, namun tidak semua orang akan diperiksa Covid-19 tetapi hanya mereka yang beresiko. Demikian dikatakan juru bicara pemerintah untuk Virus Corona Achmad Yurianto saat konferensi persnya di Gedung BNPB, Jumat (20/3/2020).
“Ini akan dilakukan melalui analisa risiko, tidak semua orang diperiksa. Ini penjajakan awal, pemeriksaan massal,” ujar Yuri dikutip dari liputan6.
Sementara metode yang akan diterapkan, kata Yuri, berbeda dengan tes pasien yang positif corona. Masyarakat yang akan melakukan rapid test, akan diperiksa lewat darah.
“Akan diperiksa melalui darah dengan alat kit, sehingga kurang 2 menit hasilnya ketahuan,” ujar dia.
Rapid test ini, kata Yuri merupakan screening awal untuk menemukan kasus yang terpotensi positif Covid-19. Apabila hasil screening dinyatakan positif, kata Yuri, maka pasien akan kembali diperiksa dengan metode VCR. Sebab, kata Yuri, seseorang yang sudah sembuh juga masih bisa terditeksi positif Covid-19.
Baca juga:
- Pertamina Hulu Rokan Tampilkan Inovasi dan Capaian Produksi di IPA Convex 2026
- Tata Kelola Anggaran Terbaik, SKK Migas Raih Gelar “Jawara Of The Year 2025” dari KPPN Jakarta II
- Dosen UNIMUS Luncurkan Buku Saku Digital SMART-HTN untuk Kendalikan Hipertensi
- Wabup Rejang Lebong Hendri Dilepaskan, KPK Pastikan Tidak Terlibat Suap Proyek
Tak Semua Pasien Positif Covid-19 Dirujuk ke RS
Yuri mengatakan, tak semua orang yang terditeksi positif Covid-19, akan dirujuk ke rumah sakit. Pemerintah, kata dia, akan mensosialisasikan cara mengisolasi diri di rumah.
“Kalau positif dari hasil screening, kita mensosialisasikan isolasi sendiri di rumah, melakukan kegiatan baik, pakai masker, asupan gizi maksimal, menjauh dari keluarga dan akan dipantau,” ujar Yuri.
Hal ini, kata Yuri, untuk mengurangi beban rumah sakit yang harus mengurus pasien yang sudah parah.
Editor: J. Silitonga
Sumber: liputan6









