Home / Nusantara

Senin, 18 Maret 2019 - 06:28 WIB

Tujuan Berpolitik itu Luhur, Bukan Memecah Belah

JAKARTA, Sumatera Headline — Pada masa yang lazim disebut tahun politik, selayaknya semua orang menjaga persaudaraan, bukan justru saling tunjuk dan saling mencari kesalahan.

Hal tersebut ditegaskan politisi Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi atau lebih dikenal sebagai Titiek Soeharto. Titiek mengajak seluruh masyarakat menjalin dan mempererat tali silaturahmi serta mengesampingkan perbedaan pilihan politik.

“Tujuan politik itu luhur, bukan justru jadi alat memecah belah. Islam mengajarkan kita saling memaafkan,” kata Titiek.

Putri Presiden Soeharto itu juga mengutip kearifan Jawa yang selalu diajarkan oleh almarhum ayahnya.

“Ayah kami, Bapak kita semua selalu menasehati, aja mung nyatur alaning liyan. Jangan hanya membicarakan kejelekan orang lain,” katanya menambahkan.

Titiek sempat pula mengatakan hal yang sama saat menghadiri acara peringatan Isra dan Miraj bersama Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat, Sabtu, 16 Maret 2019 lalu.

Baca Juga :  Titiek Soeharto: Posyandu Garda Terdepan Cegah Penyakit

Pada forum BKMT tersebut Titiek juga mengajak ibu-ibu majelis taklim untuk arif dalam menyikapi suasana cenderung panas menjelang Pilpres.  Dengan kearifan itu ia berharap hal-hal negative bisa diusir sejauh-jauhnya.

“Kita semua berharap pascapemilu nanti persatuan dan persaudaraan bangsa ini bisa semakin kokoh.”

Sebelum bergabung menjadi pengurus Partai Berkarya, Titiek lama menjadi wakil ketua Komisi IV DPR RI dari Partai Golkar. Saat menjadi wakil rakyat tersebut Titiek pernah meminta Kementerian Pertanian memenuhi seluruh kebutuhan yang diperlukan petani bawang putih demi tercapainya swasembada bawang putih pada 2021.

Bukan hanya bantuan, dia juga meminta Balitbang dan Kementan untuk melihat wilayah-wilayah di seluruh Indonesia yang potensial dan layak ditanami bawang putih.

“Impor bawang putih di tahun 2017 itu besarnya mencapai 550 ribu ton sedangkan kita hanya mampu menghasilkan sekitar 20 ribu ton. Ini sangat keterlaluan. Padahal wilayah kita sangat luas,” kata Titiek saat itu.

Baca Juga :  Antusiasme Pengunjung CFD Berfoto Bersama Pak Harto dan Ibu Tien

Pada kesempatan lain Titiek juga giat mendorong pemerintah untuk segera melakukan swasembada daging sapi. Tujuannya agar Indonesia tidak tergantung kepada daging impor dalam upaya menstabilkan harga.

“Kasus daging sapi impor itu tidak hanya seperti sekarang. Setiap mau puasa, Lebaran harga pasti naik,” kata Titiek.

Dirinya menyatakan komitmen demi terwujudnya swasembada jagung tersebut lebih dari tiga tahun lalu. Saat itu ia sudah mewanti-wanti agar pemerintah tak selalu mengandalkan impor demi pemenuhan kebutuhan daging masyarakat.

“Jangan terus menerus mengimpor daging sapi,” kata Titiek di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) di Dusun Piring, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Bantul, 2016 lalu.
Rilis

Editor : J. Silitonga
 

Share :

Baca Juga

Nusantara

Menhub Minta PT KAI Bentuk Tim Khusus Untuk Antisipasi Gangguan Operasional KRL Jabodetabek

Covid-19

Berkapasitas 24 Ribu, Jokowi Cek Kesiapan Wisma Atlet sebagai RS Darurat untuk Corona

Nusantara

Fokus Pemerintah Turunkan Angka Stunting di 100 Kabupaten/Kota

Nusantara

Ketua MPR RI dan Menteri Koperasi UKM Dukung Pelaksanaan HPN 2021

Nusantara

Total Pasien Sembuh dari Covid-19 Adalah 17 Jiwa

Nusantara

Presiden Jokowi Resmikan Jalan Pintas Batas Kota Singaraja-Mengwitani

Nusantara

Dukung Ketahanan Energi, PHE Catatkan Kinerja Optimal di Tahun 2023

Kesehatan

Presiden Jokowi Minta Persiapkan Sejumlah Langkah untuk Atasi Kualitas Udara di Jabodetabek