LUBUKLINGGAU, Sumatera Headline – Ketua Ombudsman RI, Prof Amzulian Rivai melakukan peninjauan beberapa pelayanan publik di Kota Lubuklinggau, diantaranya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Lubuklinggau dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Lubuklinggau, Kamis (03/05/2018).

Kedatangan Ketua Ombudsman tersebut disambut langsung oleh Pj Walikota Lubuklinggau H Riki Junaidi, Waka Polres Lubuklinggau Kompol Zulkarnain, Sekda Kota Lubuklinggau H A Rahman Sani, Camat Lubuklinggau Timur Henny Fitrianti, Kapolsek Lubuklinggau Timur AKP Hadi.
Dalam kegiatan peninjauannya, Amzulian Rivai mengapresiasi pelayanan publik pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah serta Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Lubuklinggau.
Dalam kesempatan tersebut, juga memberikan beberapa sumbang saran kepada kedua instansi pelayanan publik tersebut yang masih kurang.

Dikatakannya, jasa perpustakaan sangatlah penting bagi masyarakat, terutama di negara-negara maju. Melihat fasilitas di perpustakaan Kota Lubuklinggau tersebut, dirinya merasa gembira karena bisa diakses secara terbuka.
Namun, ada beberapa catatan yang menjadi saran penting kepada perpustakaan terbaik di Sumsel itu. Pertama, apakah Pusda yang ada saat ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Lubuklinggau atau tidak.
Lalu yang kedua, perpustakaan saat ini harus mulai berpikir inovatif bukan hanya mengoleksi buku-buku yang dikirim dari berbagai tempat sehingga berkumpul menjadi satu.
“Namun Idealnya perpustakaan itu harus memunculkan para penulis-penulis. Bahkan diharapkan bisa secara rutin menggelar lomba-lomba karya tulis ilmiah, tapi bukan hasil karya tulis lomba-lomba yang dikumpulkan menjadi satu,” katanya.

Namun, untuk semua kegiatan itu,
rata-rata perpustakaan yang ada selalu terkendala masalah anggaran, bahkan semua lembaga yang ada di Indonesia menghadapi kendala yang sama.
Tapi ia meminta anggaran jangan dijadikan batu sandungan secara terus menerus.
Amzulian memberikan contoh, ada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, namun tidak menggunakan anggaran. Ia mengenang ketika masih menjadi dosen sangat mudah mengadakan lomba, walaupun, skupnya bidang mata kuliah yang dia ajarkan.
“Apalagi ini Pusda bisa dengan mudah menggandeng media. Cukup untuk yang terbaik satu, dua, dan tiga ada jaminan untuk diterbitkan di media, saya rasa itu bisa,” ujar Amzulian.
Dirinya juga meminta, Pusda Kota Lubuklinggau untuk berinovasi melakukan kerjasama dengan kedutaan-kedutaan yang di Indonesia, seperti contohnya Amrican Corners, menurutnya mereka akan kaget sekali jika ada usulan dari sebuah perpustakaan kota kecil.
“Siapa tahu itu peluang lebih untuk menjadi besar. Belum lagi kerja sama dengan perpustakaan nasional tentu mereka punya program dalam bidang itu,” ujarnya.
Selain itu, Amzulian menyarankan agar semua koran-koran yang berlangganan dengan Pusda saat ini untuk didokumentasikan secara digital. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan 10 tahun yang akan datang, ada orang yang meneliti tentang sistem pemerintahan di Kota Lubuklinggau.
“Saya rasa 10 tahun yang akan datang, tidak ada lagi koran yang terbit sekarang, jika tidak dengan digital yang rapi. Seperti saya pernah meneliti tentang negara Timur -Timur tahun 70 an. Saya dengan mudah bisa baca di perpustakaannya,” ucap Amzulian.
Hanya saja, semua tidak bisa dilakukan dengan cara sulap dan selalu membutuhkan proses. Namun, secara keseluruhan ia sangat kagum dan mengapresiasi perpustakaan Kota Lubuklinggau yang dianggapnya sudah baik. (ADV)
Naskah : Immanuel S
Editor : J. Silitonga









