Home / Musi Rawas / Potret / Sumsel

Minggu, 27 Oktober 2024 - 21:31 WIB

Pinang Tak Lagi Sekadar Buah, tapi Harapan: Kisah KWT Melati Bangkitkan Ekonomi Desa Sukakarya

Ibu Suhartini, Ketua KWT Melati

Ibu Suhartini, Ketua KWT Melati

MUSI RAWAS — Di bawah rindangnya pepohonan pinang yang menjulang di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, sekelompok ibu-ibu tampak sibuk menakar bahan, mengaduk rebusan jahe, dan menata kemasan berlabel “Bandrek Pinang KWT Melati”. Dari tangan-tangan terampil mereka, buah pinang yang dulu dianggap komoditas biasa kini menjelma menjadi sumber penghidupan dan kebanggaan desa.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, yang diketuai oleh Suhartini, telah menjadi simbol kemandirian perempuan pedesaan. Sejak berdiri pada 2020 dan dibina oleh PT Pertamina Pendopo Field, KWT ini berkembang pesat. Mereka memanfaatkan setiap bagian dari pohon pinang—buah, pelepah, hingga kulitnya—menjadi beragam produk bernilai ekonomi tinggi.

“Banyak sekali keuntungan yang kami dapatkan. Pertamina memfasilitasi sarana produksi, kemasan, hingga membantu pemasaran. Sekarang produk kami sudah bisa dibeli lewat marketplace,” ujar Suhartini, Jumat (27/10).

Dari Dapur Desa ke Pasar Digital

Produk unggulan mereka antara lain Bandrek Jahe Pinang, Kopi Pengantin, Tepung Mocaf, serta sterefoam ramah lingkungan dari pelepah pinang. Semua diolah secara tradisional namun dikemas modern.

Harga bandrek dan kopi pinang dijual Rp25 ribu per 200 gram, sedangkan sterefoam dijual Rp3.500 per buah. Dalam sebulan, mereka bisa menghabiskan 350 kilogram bahan baku pinang—angka yang menunjukkan tingginya permintaan.

Berkat sentuhan digitalisasi, produk KWT Melati kini juga tersedia di platform Pelepah Indonesia, sebuah start-up yang memasarkan produk ramah lingkungan. Kehadiran marketplace ini membuka jalan bagi ibu-ibu desa untuk menembus pasar yang lebih luas, bahkan lintas daerah.

“Kami bersyukur karena kemasan dan tempatnya difasilitasi oleh Pertamina. Produk kami jadi lebih menarik di pasaran,” tambah Suhartini sambil tersenyum.

Baca Juga :  Kawasan Wisata Terpadu Lubuklinggau akan Segera Terwujud

Berawal dari Semangat, Berbuah Prestasi

Perjalanan KWT Melati bukan tanpa hasil gemilang. Mereka telah meraih berbagai penghargaan, mulai dari Juara III Local Hero Awards Pertamina EP 2019, Juara I Festival Pangan Lokal 2019, hingga Juara I Meracik Rempah Festival Rempah Nusantara 2023.
Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa ketekunan, inovasi, dan gotong royong mampu mengubah wajah ekonomi desa.

Bandrek Jahe Pinang olahan KWT Melati Gemilang Desa Sukakarya Kecamatan STL Terawas, Kabupaten Musi Rawas

Titik puncak kebanggaan KWT Melati terjadi pada 27 Oktober 2023, saat Bupati Musi Rawas Hj. Ratna Machmud meresmikan Griya KWT Melati di Desa F Trikoyo, Kecamatan Tugumulyo. Fasilitas ini menjadi pusat promosi dan penjualan produk olahan pinang, sekaligus tempat belajar bagi masyarakat sekitar.

Pinang yang Tak Pernah Terbuang

Keistimewaan KWT Melati terletak pada cara mereka melihat pinang: bukan hanya buah, tapi sumber kehidupan yang lestari.
Pinang muda diolah menjadi bandrek, pinang tua menjadi kopi, pelepah dijadikan wadah makan ramah lingkungan, lidi menjadi kerajinan, dan kulitnya dipakai menyuburkan tanah.

“Tidak ada yang terbuang dari sebatang pinang,” tutur Suhartini. “Kulitnya saja bisa untuk menurunkan kadar asam tanah, bahkan sari kulit pinang bisa mencegah karat.”

Kesadaran ekologis ini sejalan dengan program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Pinang (Gemilang). Pemerintah Desa Sukakarya pun mendukung dengan menerbitkan Peraturan Desa Nomor 47 Tahun 2019 tentang pelestarian pohon pinang—melarang penebangan tanpa mengganti minimal dua batang baru.

Ketika Pinang Menjadi Penopang Kehidupan

Bagi warga Sukakarya, pinang kini lebih dari sekadar tanaman. Ia menjadi “penyelamat” di saat ekonomi sulit.
“Kalau lagi tidak ada uang, ya kami datang ke KWT dulu, minta pinjam, nanti diganti pakai pinang,” ujar Yati (35), salah satu anggota KWT sambil tertawa.

Baca Juga :  Pertamina EP Pendopo Field Fasilitasi PLTS untuk Dukung Operasional KWT Melati Musi Rawas

“Dulu harga pinang turun, cuma Rp3.000 per kilo. Tapi karena ada KWT, pinang tetap dibeli dan diolah. Jadi kami masih bisa bertahan.”

Program ini bukan hanya menambah penghasilan, tapi juga menyerap tenaga kerja lokal, terutama bagi ibu rumah tangga saat jeda musim tanam. Kini, banyak pekarangan rumah warga yang ditanami pinang dan jahe sebagai sumber bahan baku.

Sinergi Pertamina dan Perempuan Desa

Menurut Muhammad Reza, Community Development Officer (CDO) PT Pertamina Pendopo Field, pemberdayaan perempuan menjadi fokus utama program Gemilang.
“Di Sukakarya, tingkat pendidikan perempuan relatif rendah. Melalui pengolahan pinang, kami ingin membuka akses ekonomi sekaligus pendidikan non formal,” jelasnya.

Pertamina turut membangun rumah produksi, rumah bibit, ruko Griya Melati, hingga mesin pencetak pelepah pinang.
Selain itu, lebih dari 14 ribu bibit pinang telah ditanam di Sukakarya dan sekitarnya sebagai wujud keberlanjutan program.

“Kami ingin KWT Melati menjadi contoh. Suatu saat nanti, mereka bisa mandiri tanpa tergantung pada pembinaan. Inilah kemandirian yang kami harapkan,” kata Reza.

Dari Desa untuk Indonesia

Kisah KWT Melati adalah kisah tentang perempuan yang berdaya, tentang alam yang dijaga, dan tentang pinang yang menghidupi. Dari tangan-tangan sederhana di dapur desa, lahirlah produk unggulan yang kini mengharumkan nama Musi Rawas dan Sumatera Selatan.

Pinang tak lagi sekadar buah di kebun belakang rumah—ia kini simbol harapan baru bagi perempuan desa.

Editor: Jhuan

Share :

Baca Juga

Lubuklinggau

Ini Nomor Urut Tiga Paslon Wako dan Wawako Lubuklinggau

Palembang

SKK Migas dan Jadestone Berhasil Alirkan Gas Perdana Pasok PLN Batam

Lubuklinggau

Bidang Persandian Diskominfo Lubuklinggau Hadiri Asistensi Pembentukan CSIRT

Advertorial

Bupati Musi Rawas Buka Latihan Kepemimpinan Siswa ke-XX

Lubuklinggau

Jabat Penasehat, Owner Smart Hotel Dukung Penuh SMSI Silampari

Advertorial

Sekda Hadiri Debat Publik Pertama Pilkada Musi Rawas 2024

Lubuklinggau

Respon Peserta Pelatihan Operator Website Desa Cukup Tinggi, Terbukti Waktu yang Disediakan Terasa Kurang

Palembang

Dodi Reza Akan Fasilitasi Rapid Test Bagi Wartawan Sumsel