Home / Palembang / Sumsel

Selasa, 1 Oktober 2019 - 12:21 WIB

Jaga Kampus Kita

PALEMBANG, SH – Guna mencegah peningkatan terpaparnya mahasiswa dari paham radikalisme, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumsel terus melakukan upaya-upaya preventif.

Salah satu upaya tersebut dengan menggelar Dialog Pelibatan Civitas Akademika dalam Pencegahan Terorisme melalui FKPT Sumsel, dengan tema Jaga Kampus Kita di Gedung Polsri dengan mengadirkan Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol Ir Hamli ME, Kadisdik Sumsel Drs Widodo MPd dan juga Wakil Direktur 1 Polsri Carlos RS, MT, Senin (1/10).

Ketua FKPT Sumsel Dr Feriansyah pada pembukaan mengatakan bahwa potensi radikalisme yang mengarah terioris di Perguruan tinggi secara nasional potensinya 39 persen, sementara di Sumsel, berdasarkan penelitian yang di lakukan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumsel, potensi radikal di kampus menunjukan angka 55, 6 persen

“Dan ini harus menjadi perhatian dan jangan sampai akademisi terpapar radikalisme. Apalagi mahasiswa rentan terpapar radikalisme,”terangnya.

Dikatakannya, bahwa FKPT Sumsel terus mendorong dan berpastisi pasi dalam menanggulangi terosisme dengan mendorong dan mengajak semua pihak, pemuda, pemkab, pemkot, kalangan akademisi, tokoh masyarakat dan sebagainya.

Dialog bersama FKPT dalam menjaga kampus dari terpaparnya mahasiswa dari paham radikalisme

Meskipun di Sumsel termasuk aman, namun paham radikal bisa tumbuh dan muncul dimana saja, tidak hanya pria dewasa, namun juga saat ini juga terlibat perempuan dan anak-anak, seperti beberapa waktu lalu di Surabaya.

Selain mayasrkat biasa, bukan tidak mungkin akademisi bisa berpotensi terpapar radikalisme, makanya civitas academica harus terlibat dalam pencegahan. Jangan sampai mahasiswa terlibat terorisme. “Dialog seperti yang kita lakukan ini, salah satu bentuk pertanggungjawaban kita semua agar negara Indonesia lebih baik, bebas dari terorisme,” pungkasnya.

Baca Juga :  Mengantongi 16 Kursi dan Diusung Tiga Parpol, Pasangan Ratna-Berarti Daftar ke KPU di Hari Ketiga

Senada dengan itu dikatakan Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol Ir Hamli ME mengatakan Indonesia perlu bersyukur masih memiliki negara, dibandingkandi negara lain, terutama di timur tengah, seperti di Suriah yang koplik berkempanjangan dan sebagainya.

“Namun kita juga perlu waspada, bahwa anacaman kelompok teror tatap ada,” katanya.

Menurutnya banyak pemicu sikap dan tindakan aksiterorisme. Menurut hasil penelitian yang ia ungkapkan, penelitian itu dilakukan 2012 lalu oleh Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP).

“45, 5 persen motif aksi teror karena idiologi agama, 20 persen karena solidaritas kumunal atau komunitas, 12, 7 persen karena mob metality, 10,9 persen karena ingin balas dendam, 9,1 persen karena situasional, bisa karena ekonomi dan sebagainya, sedang 1,8 persen karena sparatisme,” kata Hamli saat memberikan materi pada peserta dialog.

Menurutnya aksi terorisme juga ada proses, yang pertama di mulai dari intoleransi. Ini merupakan orientasi negatif, atau sikap menolak hak-hak politik dan sosual yang tidak disetujui.

Lalu meningkat menjadi sikap radikalisme. Ini merupakan suatu ideologi atau gagasan yang ingin melakukan suatu sistem sosial dan politik dengan cara kekerasan. “Ada beberpa poin pada kelompok radikan yaitu anti pancasila, menyuburkan sikap intoleransi, anti NKRI, menyebarkan paham takfiri, serta menyebabkan distras bangsa,” katanya.

Baca Juga :  Polisi Berhasil Gerebek Gelanggang Sabung Ayam

Setelah itu baru meningkat ke level terorisme. “Ini adalah sudah merupakan tindakan yang mengunakan kekerasan. Sehingga menyebar rasa takut secata meluas,” pungkasnya.

Sementara itu dikatakan Wakil Direktur 1 Polsri Carlos RS, MT mengatakan bahwa civitas akademika terus berupaya memberikan pengawasan terhadap mahasiswa agar tak terpapar radikalisme.

“Salah satu bentuknya adalah melalui kegiatan, edukasi, yang muaranya kegiatan preventif. Saya kira radikalisme di Polsri masih skala kecil dibanding Universitas lain, seperti yang terjadi di Surabaya misalnya,”terangnya.

Terkait kegiatan organisasi mahasiswa (Ormawa) yang kemudian perlu diawasi menurutnya pihak kampus juga telah melakukan pengawasan melalui bidang kemahasiswaan. “Jadi setiap UKM ada pembina dan ada pembimbingnya,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendikan Sumsel, Widodo mengakui bahwa mendapat informasi dari BNPT ternyata disinyilir paham radikalisme juga tersemai pada pelajar SMA maupun SMK. Sehingga ia menghimbau seluruh sekolah untuk peduli terhadap segala jenis kegitan di sekolah, agar apapun kegitan tidak terpapar radikalisme dan terorisme.

“Dalam penelitian bahwa anak-anak SMA dan SMA itu terpapar karena disusupi oleh pihak luar. Konsen kita adalah memastikan setiap sekolah tidak sembarang menerima narasumber, yang jusrtu akan menimbulkan benih-benih radikalisme,” pungkasnya. (Ril)

Editor : J. Silitonga

Share :

Baca Juga

Musi Rawas

Gelar Pasukan OPS Mantap Praja Musi 2020, Kapolres Harap Terwujudnya Pilkada Damai, Aman dan Sejuk

Musi Rawas

Musi Rawas Raih Penghargaan Kabupaten Terinovatif ke Empat

Musi Rawas

Bertemu Bupati, Jokowi Tekankan Sinergisitas Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Dapat Sejalan

Musi Rawas

Dinilai Berhasil Tangani Covid-19, Pemkab Musi Rawas Terima Reward DID dari Kemenkeu RI

Kriminal

Pelaku Teror Rumah Warga di Kelurahan Rahma Berhasil Diringkus Polisi

Musi Rawas

Tim Bola Voli Putri Jaya Musi Rawas Lolos 8 Besar

Musi Rawas

Jalankan Program Musi Rawas Bersadaqoh, Desa Marga Baru Patut Dicontoh Desa Lainnya di Musi Rawas

Musi Rawas

270 Atlit Musi Rawas Siap Bertanding di Porprov Sumsel